Hai, aku Alin. Selama hidupku, aku selalu merasa tersisihkan. Aku selalu dianggap sebagai beban dan sangat memalukan. Bahkan keluarga yang harusnya jadi tempat berlindung juga melakukan hal yang sama.
Waktu umurku 2 bulan dalam rahim, ayah meninggalkan aku dan ibu sendiri. Sejak kecil aku tinggal bersama ibu, kakek dan nenek, serta sepupuku. Saat bersama mereka, aku seperti dijadikan objek, selalu dibanding-bandingkan dengan sepupuku. Mereka selalu membanggakan sepupuku tanpa peduli perasaanku. Padahal aku selalu juara kelas, tapi kenapa mereka tak pernah memujiku. Ibu, aku juga ingin dibanggakan seperti anak-anak lainnya.
Keluargaku tak pernah tahu bahwa aku kerap dibully. Teman-temanku selalu mengejekku karena tak memiliki keluarga sempurna. Saat itu aku tak paham hal menyedihkan apa yang aku alami, aku menganggap itu sebagai candaan tapi entah kenapa rasanya sesak sekali. Setiap melihat temanku bermain dan berpelukan dengan ayahnya, aku hanya bisa diam. Mereka juga sering mengolok-olokku karena keluargaku tak sekaya mereka.
Semakin aku dewasa, rasanya semakin sesak hidup tanpa seorang ayah.
Waktu berjalan sangat pelan seiring dengan luka hatiku yang tak juga mengering. Selama itu aku berusaha untuk bersikap konyol, padahal aku sangat terluka. Tak ada yang bisa memahamiku, termasuk Ibu. Setiap kali aku bercerita, ibu malah menyuruhku untuk ruqyah dan membawaku ke rumah sakit untuk dilakukan rontgen.
Aku sangat tidak nyaman berada di tengah keluarga, mereka sangat egois dan karena itu aku mencari kenyamanan di tempat lain. Untungnya aku menemukan sahabat yang sangat baik, yang bisa menjadi sumber kenyamananku.
Tapi masih saja ada yang menggangguku. Katanya, berteman denganku bisa merusak kebahagiaan keluarga mereka. Aku sedih sekali, setiap hari aku hanya menerima kebencian dan hinaan. Aku tak tahu apa salahku sehingga harus menerima kebencian atas hal yang tak kulakukan. Apakah keberadaanku di dunia adalah kesalahan?
Aku merasa rumahku adalah nerakaku. Akhirnya saat SMA, aku memutuskan untuk masuk pondok. Tapi situasi tak juga membaik. Aku tak tahu kapan awalnya, aku jadi lebih mudah cemas dan overthinking terhadap hal yang sepele. Aku merasa seperti orang yang bodoh.
Di tengah kehampaanku, suatu hari sosok yang kurindukan itu hadir didepanku. Aku senang sekali. Dengan kembalinya ayah, aku harap bisa memiliki keluarga yang sempurna dan bisa menjadi penenang hatiku. Tapi, ia justru menatapku seolah aku anjing liar yang sangat ia benci. Tatapan itu tak juga hilang hingga saat ini, seolah kebencian itu sudah mengeras dalam hatinya.
Peristiwa itu membuatku sangat sakit hati. Setiap kali aku melihat sosoknya, perasaanku hancur sekali. Aku jadi semakin tak betah setiap pulang ke rumah. Setiap waktu libur, aku memilih untuk ke rumah teman dibandingkan pulang ke rumah. Mentalku drop, sampai-sampai aku melampiaskannya dengan cara menyakiti pergelangan tanganku. Awalnya sakit, tapi aku puas karena tak lagi menahan sesak. Akhirnya perilaku itu menjadi candu bagiku agar bisa melampiaskan rasa sakitku.
Namun rasa sakitku tak kunjung hilang. Aku sangat frustasi, pikiran untuk bunuh diri kerap menari-nari di pikiranku. Bahkan aku juga sempat beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri.
Di awal tahun 2020, aku mengalami kecelakaan. Aku terjatuh dari ketinggian 3 meter, kelapaku menghantam sudut bor dan berdarah. Aku kira kejadian itu bisa mencuri perhatian dan kasih sayang keluargaku, ternyata tak ada yang berubah sejak kejadian itu. Keluargaku tetap mencampakkanku, seakan-akan membuangku seperti sampah. Aku semakin putus asa dan merasa hampa karena tak memiliki seseorang untuk pulang, untuk menenangkanku saat aku stress dan panik.
Setelah lulus pondok, aku kembali tinggal di neraka itu lagi. Setiap harinya membuatku semakin frustasi, karena aku hanya berdiam diri di kamar. Teman-teman baikku juga tinggal jauh dari rumah sehingga aku tak bisa bertemu dengannya.
Suatu sore, aku dan orang tuaku bertengkar hebat. Aku sudah tak tahan lagi, hingga akhirnya aku memutuskan untuk kabur dari rumah ke Bogor. Bagiku Bogor adalah tempat ternyaman setelah teman-temanku. Suasananya menenangkan karena lingkungannya dekat dengan pondok. Untungnya dengan kabur kesana aku jadi mendapat pekerjaan dan tak perlu berhubungan dengan orang-orang egois itu lagi.
Aku harap, aku bisa menemukan seseorang yang membantuku keluar dan melawan kebencian itu.