Ditulis Oleh: Herlysa
Setiap orang pasti pernah merasa lelah setelah beraktivitas seharian. Tidak ada lagi yang diinginkan selain cepat-cepat beristirahat saat energi sudah terkuras habis. Tetapi bagaimana jika tubuh masih terasa capek meski sudah tidur cukup? Lalu hari demi hari yang berlalu rasanya semakin melelahkan. Tugas-tugas sederhana terasa memberatkan, bunyi notifikasi terdengar menyebalkan, dan sulit berkonsentrasi seperti biasanya. Selama pikiran tetap berjalan ketika tubuh sedang diistirahatkan, yang dibutuhkan bukan sekadar tidur selama delapan jam atau lebih lama lagi. Bisa jadi, yang sebenarnya sedang kelelahan bukan tubuhmu, melainkan pikiranmu. Kondisi ini dikenal sebagai kelelahan mental atau mental exhaustion, Genees!
Apa itu Mental Exhaustion?
Kelelahan mental atau mental exhaustion adalah kondisi ketika seseorang mengalami kelelahan secara mental akibat menghadapi tekanan yang berlangsung terus-menerus tanpa memiliki waktu yang cukup untuk memulihkan diri.
Pikiran juga membutuhkan bahan bakar untuk menjalankan berbagai fungsi sehari-hari. Energi mental adalah kekuatan yang menggerakkan otak kita untuk berkonsentrasi, mengambil keputusan, mengendalikan emosi, hingga kemampuan kita menghadapi tekanan.
Memaksa otak kita terus menerus bekerja tanpa istirahat yang cukup dapat menguras energi mental. Energi mental yang rendah bisa berdampak signifikan pada kualitas hidup dan kesehatan mental. Seperti kesulitan berkonsentrasi, merasa kewalahan (overwhelmed), atau kehilangan minat pada aktivitas yang kita nikmati.
Itulah sebabnya seseorang yang kelelahan secara mental bisa merasa capek meskipun aktivitasnya tidak terlalu berat atau sedang tidak melakukan apapun seharian. Energi yang terkuras bukan berasal dari tubuh melainkan dari pikiran yang terus bekerja tanpa jeda, Genees!
Kondisi ini dapat dialami siapa saja. Mulai dari pelajar yang menghadapi tuntutan akademik, pekerja dengan beban pekerjaan tinggi, hingga seseorang yang sedang menghadapi masalah pribadi dalam waktu yang lama. Semakin lama tekanan berlangsung tanpa diimbangi waktu untuk memulihkan diri, semakin besar risiko seseorang mengalami mental exhaustion.
Berbeda dengan kelelahan mental yang membuat energi mental terkuras habis akibat tekanan yang intens, stres merupakan respons alami tubuh terhadap tekanan atau perubahan. Dalam batas yang wajar, stres bahkan dapat memotivasi untuk tetap fokus dan menyelesaikan tugas. Perasaan berdebar, cemas, atau tegang yang dirasakan saat stres umumnya bisa langsung mereda ketika tekanan berkurang atau masalah selesai.
Namun, ketika stres berlangsung terus-menerus tanpa waktu yang cukup untuk memulihkan diri, tubuh dan pikiran dapat kehilangan kemampuan untuk beradaptasi. Apabila kondisi ini terus berlanjut, stres dapat berkembang menjadi mental exhaustion.
Sayangnya, masih banyak yang menganggap kelelahan mental hanya sebatas kondisi kurang semangat atau rasa malas saja. Padahal kelelahan mental yang diabaikan tanpa penanganan yang tepat bisa mengganggu berbagai aspek kehidupan.
Dampaknya dapat berupa sulit berkonsentrasi dan mengambil keputusan, motivasi yang menurun, emosi yang menjadi kurang stabil, hubungan dengan orang lain yang ikut terdampak, hingga meningkatnya risiko melakukan kesalahan pada pekerjaan yang membutuhkan tingkat konsentrasi tinggi. Pada kondisi tertentu, mental exhaustion atau kelelahan mental juga dapat meningkatkan risiko burnout maupun gangguan kesehatan mental lainnya.

Minta Bantuan Professioanl
Jika Genees merasa mengalami tanda-tanda tersebut, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional sedini mungkin. Genees juga dapat mengakses layanan dukungan melalui tautan di bio @salurkisah sebelum kelelahan mental mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
“Lelahmu adalah tanda bahwa tubu, pikiran, dan perasaanmu sedang butuh istirahat penuh dan membutuhkan bantuan”